Bintaro dimalam hari
Jakarta, 19 Mei 2020
Satu tahun sepuluh bulan sudah aku menjalani kehidupan sebagai madu dari pria yang sudah memiliki keluarga. I know, you will say that i'm crazy person. Yes i am. Aku tahu ini salah, aku tahu rasa ini tidak semestinya tercipta. Tepat dua bulan yang lalu ia memberanikan diri untuk membuat hubungan ini resmi secara agama. Aku paham apa yang kami lalukan mungkin sudah terlalu jauh. Sudah terlalu dalam aku menyelam dalam lautannya. Terombang ambing dengan harapan suatu saat aku dapat mencapai daratan. Padahal nyatanya aku sadar bahwasannya itu semua takkan mungkin pernah terjadi. Semua hanyalah khayalku. I know how much he love her. Terasa jelas dari apa yang ia lakukan. Tak pernah sekalipun aku dapati hari dimana kami bertemu tanpa ia membicarakan tentang dia(she). Sekalipun aku menahan untuk hal itu tidak terjadi, tetap tanpa hentinya ia ceritakan bagaimana ia sangat mengagumi dan mencintai dia(she), sekalipun kondisi mereka sedang tidak harmonis. Bahkan terkadang ia juga menceritakan bagaimana mereka melakukan permainan diranjang itu (you know what i mean), bagaimana mereka melalui itu, dan apa saja yang ia lakukan atau sentuh dengannya. Terkadang aku tidak mengerti apakah mungkin ia merasa sudah tidak ada lagi kata sungkan denganku sehingga begitu saja hal tersebut keluar dari mulutnya.
Aku tahu, aku hanyalah seorang selingkuhan. Tapi aku rasa kalian paham bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu ikhlas mengetahui orang yang mereka cintai bercumbu dengan selainnya. Aku tau cemburuku ini tidaklah wajar. Aku tahu ia berhak melakukan apapun yang ia mau dengan pasangan resminya. Tapi sakit ini begitu terasa menusuk. Namun hal seperti ini takkan bisa bertahan selamanya. Tersadar pada kenyataan bahwa aku hanyalah boneka sexs-nya. Pada akhirnya... aku harus tetap menjalani kehidupanku sendiri, entah bertahan hidup dengan seseorang disampingku ataupun tidak. Aku paham bahwa roda kehidupan harus terus berputar. Aku harus mulai bergegas menyiapkan diri untuk bertahan.
Namun sampai semua persiapan itu matang, aku akan bertahan sebisa mungkin dan tetap ditempatku, berharap ia yang ku cintai dapat berada disampingku suatu hari nanti. Berpegang pada harapan yang tidak pasti. Menahan kegelisahaan itu. Mengesampingkan pikiran arogan bahwa aku yang memutuskan berlabu dalam dermaganya, aku yang berteriak, dan bertanggung jawab, mungkin adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan. Karna memutus hubungan dengan pasangan yang sudah berbagi sebagian besar hidup denganmu.. rasanya seperti memotong anggota tubuhmu. Dan rasa sakit itu akan terus menghantui keduannya. Jika menyangkut pasangan suami istri, tidak ada penjahat atau korban yang tidak bersalah. Keduanya tidak dapat dibenarkan. Selagi merenungkan kesalahan menyakitkan yang kita buat... atau... menahan setiap hari tanpa membiarkan rasa sakit itu menguasaimu. Mungkin, moment penebusan itu akan datang.
Mungkin kah?
Comments
Post a Comment